|
|
 |
|
OBSESI KOLABORASI PERKUATAN DAYA SAING UKMK
|
|
|
Dalam kontek daya saing ekonomi
daerah dan pengembangan ekonomi lokal Kinerja nyata yang dihadapi
oleh sebagian besar usaha terutama mikro, kecil, dan
menengah (UKMK)
di Indonesia yang paling menonjol adalah rendahnya tingkat
produktivitas, rendahnya nilai tambah, dan rendahnya kualitas produk.
Walau diakui pula bahwa UKMK menjadi lapangan kerja bagi sebagian
besar pekerja di Indonesia, tetapi kontribusi dalam output nasional
di kategorikan rendah. Diperkirakan UKMK hanya menghasilkan kurang
dari 40 persen PDB Indonesia ( Bisnis Indonesia, 9 Agustus 2003 ).
Hal ini dikarenakan UKMK, khususnya usaha mikro dan sektor pertanian
(yang banyak menyerap tenaga kerja), mempunyai produktivitas yang
sangat rendah. Bila upah dijadikan produktivitas, upah rata-rata di
usaha mikro dan kecil umumnya berada dibawah upah minimum. Kondisi
ini merefleksikan produktivitas sektor mikro dan kecil yang rendah
bila di bandingkan dengan usaha yang lebih besar.
Di antara berbagai faktor penyebabnya, rendahnya tingkat penguasaan
teknologi dan kemampuan wirausaha di kalangan UKM menjadi isue yang
mengemuka saat ini. Pengembangan UKMK secara parsial selama ini
tidak banyak memberikan hasil yang maksimal terhadap peningkatan
kinerja UKMK, perkembangan ekonomi secara lebih luas mengakibatkan
tingkat daya saing kita tertinggal dibandingkan dengan negara-negara
tetangga kita seperti misalnya Malaysia.
Karena itu kebijakan bagi UKMK bukan karena ukurannya yang kecil,
tapi karena produktivitasnya yang rendah. Peningkatan produktivitas
pada UKMK, akan berdampak luas pada perbaikan kesejahteraan rakyat
karena UKMK adalah tempat dimana banyak orang menggantungkan
sumber
kehidupannya
KONDISI UKMK INDONESIA
Ekonomi Indonesia sebagian besar didominasi (sekitar 98%) oleh UKMK
yang berjumlah sekitar 39 juta usaha dimana sekitar 2,7 juta
bergerak di sektor industri (IKM). Kontribusi pada ekonomi adalah
sebesar 70 Miliar US$ pada tahun 1999 (sekitar 57 % PDB). Sebagian
besar UKMK di Indonesia atau 97% nya memiliki omzet bulanan lebih
kecil dari Rp. 50 juta sehingga dapat diperkirakan bahwa kemampuan
ekonominya pun relatif rendah. Lebih jauh, terbatasnya akses pada
permodalan, informasi dan teknologi membuat lemahnya
daya inovasi
yang diyakini penting bagi daya saing usaha. |
|
artikel dari Nurdizal M
Rachman
Kembali ke halaman muka
|
|
|
|
PROMOSIKAN PRODUK-PROFILE, ALAMAT TEMPAT USAHA ANDA DI SINI
|
 |
|
|
|
|
|